Puasa Kok Loyo
tips kuat puasa | puasa identik dengan lemes, puasa boleh tidur di masjid, lihat orang bergelimpangan memenuhi masjid, sebagaian besar bukan sedang mengkikuti kajian, tetapi sedang medengkur, krrrruuuuk
Apa yang kita lihat pada bulan Ramadhan di siang hari? Masjid-masjid penuh dikunjungi orang.Sedang apakah mereka? Ternyata hanya sebagian kecil dari mereka yang memenuhi masjid untuk beribadah seperti sholat, zdikir,tilawah mendengarkan ceramah dansebagainya, sebagian besar mereka memenuhi masjid untuk tidur bergelimpangan. Seakan ingin menunjukkan kepada orang lain ”aku lagi puasa ni… lemes , malas , ngantuk dan loyo”.
Apakah tujuan itu yang diinginkan Allah dalam mewajibkan ummat-Nya berpuasa? Supaya hambanya menjadi malas, lemah dan tidak berdaya, tidak produktif, tidak berprestasi?
Rasanya kita sudah sangat hafal dan tidak asing dengan bunyi ayat 183 surat Al Baqoroh
َۤیٰۤاَیُّہَاالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الصِّیَامُ کَمَا کُتِبَ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿۱۸۳﴾ۙ
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi hamba yang bertakwa”.
Dengan puasa, sejatinya Allah ingin mengangkat derajat orang yang beriman supaya menjadi insan mulia, yang ditunjukkan dengan ketaqwaan.
Ramadhan datang bukan untuk membuat ummat Islam menjadi lemah, lesu dan takut disebabkan kelelahan melaksanakan puasa, tarawih dan tilawah qur’an.Tetapi justru dengan ibadah Ramadhan Allah ingin manusia menjadi lebih kuat, bersemangat dan berjihad membebaskan diri dan ummat dari belenggu syahwat dan dari musuh-musuh nya. Baik musuh internal yaituhawa nafsu maupun musuh eksternal yaitu para penjajah yang menginginkan kehancuran Islam.
Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan pada tahun ke 2H, tepatnya tanggal 30 Sya’ban bulan ke 17 hijrahnya Rasulullahke Madinah[1]. Sungguh merupakan ujian yang sangat berat bagi ummat Islam yang baru saja datang ke sebuah negeri demi menyelamatkan keimanannya, pada tahun ke 2H langsung Allah turunkan ayat yang mewajibkan berpuasa.Ini adalah puasa Ramadhan pertama yang mereka lakukan.
Dalam tahun pertama menjalankan ibadah puasa Allah uji keimanan para sahabat dengan peristiwa perang besar dan pertama kali terjadi antara kaum muslim dengan kaum kafir, yaitu perang Badar yang mereka hadapi dalam kondisi berpuasa. Karena Allah hendak menguatkan ruhiyah ummat Islam dengan puasa dan menguatkan kewibawaan Islam dengan perang Badar, yaitu dua momentum besar terjadi pada waktu yang sama yaitu th ke 2 H. Sepanjang hidupnya Rasulullah hanya mengalami 8 kali bulan Ramadhan, namun demikian banyak peristiwa sejarah yang beliau ukir bersama para sahabat.
Dari tahun-ke tahun kita menjalankan ibadah Ramadhan, prestasi apa yang sudah kita raih dan persembahkan untuk kemuliaan Islam? Mengapa kita belum mendapatkan kemuliaan seperti yang Allah janjikan?
Apa prestasi besar yang Rasulullah, para sahabat, dan generasi sesudahnya perjuangkan di bulan Ramadhan
Pembahasan makalah ini akan menitik beratkan pada peristiwa yang terjadi pada Bulan Ramadhan yaitu peperangan yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat dalam keadaan berpuasa. Ini berpijak dari sebuah hadits Rasulullah yang kami kutip dari kitab Terjmah Musnad Imam Ahmad no 140 jilid 2 halaman 326
Artinya:”Abu Said menceritakan kepada kami, IbnuLahi’ah menceritakan kepada kami. Bukayr menceritakan kepada kami dari Said Al Musayyab dari Umar dia berkata :” Kami berperang bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan, dan penaklukan pada bulan Ramadhan, kemudian kami berbuka pada kedua peristiwa itu.”
Menurut Imam Ahmad Hadits ini munqothi’, DR.Mahmud Thohan dalam bukunya Musthola Hadits menyebutkan bahwa hadits munqothi itu lemah(dhoif) karena ada perawi yang terputus.
Sikap kita dalam memandang sebuah hadits dhoif tidaklah serta merta ditolak.Karena pasti Imam Ahmad yang terkenal dengan keluasan ilmunya punya alasan untuk memasukkan hadits tersebut ke dalam kitabnya. Apalagi hadits di atas berkenaan dengan peristiwa sejarah yang monumental, pasti banyak hadist lain yang mendukung hadits tersebut dari jalur yang berbeda. Diantaranya kami kutip dari buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq pada bab keringanan berpuasa bagi musafir.
Abu Sa’id Al Khudri R.A menceritakan:” Kami bepergian bersama Rasulullah ke Makkah, saat itu kami berpuasa, kami berhenti di sebuah tempat, lalu Rasulullah bersabda:”
Artinya:” Kalian telah dekat dengan musuh kalian. Tidak berpuasa akan menguatkan kalian.”
Diantara kamiada yang tetap berpuasa dan membatalkanpuasa. Lalu Nabi bersabda:”
Artinya:“Besaok pagi kalian akan berhadapan dengan musuh kalian, tidak berpuasa akan menguatkan kalian, karena itu janganlah berpuasa.” Ini merupakan keharusan dan kamipun tidak berpuasa.Di kemudian hari ketika kami dalam perjalanan bersama Rasulullah, kami berpuasa. (h.r. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)[2]
Kandungan hadits:
- Rasulullah melakukan perang di bulanRamadhan. Ini berarti pendidikan kepada sahabat dan ummat Islam bahwa puasa tidak menyebabkan manusia menjadi lemah dan malas sehingga seolah-olah merasa pantas untuk menunjukkan kelesuannya dengan banyaktidur di masjid atau di rumah.
- Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan terbukti dengan dua peristiwa besar dalam kehidupanRasulullah terjadi pada bulan Ramadhan yaitu kemenangan perang Badar pada hari Jum’at 17 Ramadhan th ke 2H dan Futuh Makkah pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke 8 H.
- Bulan Ramadhan bukan sekedar bulan yag harus dipenuhi dengan ibadah puasa, tarawih,dan membaca qur’an, lebih dari itu Ramadhan adalah bulan ekspansi dakwah jauhkan diri dari kemalasan dan sikap “loyo.”
- Kalau saja Rasulullah tidak memanfaatkan momentum Ramadhan untuk jihad dengan alasan sedang puasa, kasian para sahabat” lemah dan loyo” tentu islam tak akan tegak di muka bumi, tidak akan sampai ke Indonesia. Karena dengan mudah akan diserang musuh pada saat lemah yaitu pada bulan Ramadhan.
- Boleh berbuka puasa dalam perjalanan bagi yang merasa lemah dan boleh tetap berpuasa bagi yang merasa mampu.
- Tahun ke 3H Rasulullah memobilisasi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri dan segala perlengkapan pada bulan Ramadhan dalam rangka menghadapi kaum kafir di Bukit Uhud yang terjadi pada 6 Syawwal th ke 3H.
- Perang Tabuk terjadi beberapa hari menjelang bulan Ramadhan pada th ke 9 H Rasulullah memimpin Pasukan 000 mujahidin melawan pasukan Romawi yang berjumlah 100.000 personil. Perjalanan sangat berbahaya karena jarak tempuh yang sangat jauh dan ganasnya alam dengan cuaca yang sangat panas.
- Pada 28 Ramadhan 92 H Thoriq Bin Ziyad berhasil mendarat di selat yang berbukit di spanyol hingga bukit tersebut dikenal dengan namanya Gibraltar (jabal Thoriq). Atas jasa Thoriq dan pasukannyaIslam berkuasa di daratan Eropa beratus-ratus tahun.
- Ramadhan 218 H ummat Islam berhasil menaklukkan Bizantium dalam perang Amoria dibawah pimpinan kholifah Al Mu’tashim Billah salah seorang kholifah Daulah Abbasiyah
- 25Ramadhan 658H perang Ain Jalut di Palestina, kamu muslimin berhasil menahan serangan bangsa Mongol yang telah menghancurkan Baghdad. Perang ini berhasil mempertahankan peradaban Islam dari keganasan tentara Mongol
- Kemerdekaan Indonesia terjadi pada 9 Ramadhan 1364H
-
Persiapan ilmiyah dan wawasan
-
Persiapan ruhiyah
- Bergembira dan merasakan kerinduan dengan kedatangan bulan suci yang penuh berkah, rahmah dan ampunan. Sebab di bulan Ramadan Allah sediakan begitu bayak keutamaan yang tidak diberikan pada bulan-bulan lain.
- Rasa Gembira itu akan mendorong seorang muslim untuk melakukan perencanaan yang baik guna meraih segala keutamaan yang Allah janjikan. Karena Ia merasa khawatir seakan-akan ini Ramadhan terakhir yang ia dapatkan dalam usianya.
- Banyak berdoa dan memohon ampun agar dapat berpuasa dengan optimal
- Pasang target amaliyah untuk pribadi misalnya khatam membaca qur’an dan terjemah. Ikut taraweh di masjid yang imamnya bagus bacaan qur’annya satu juz / malam. Tambah hafalan qur’an beberapa surat, infaq rutin harian setiap subuh, memberi ta’jil di tempat-tempat umum. dll
3. Persiapan jasadiyah
Diantara persiapan Rsulullah dalam menyambut Ramadhan, beliau paling banyak melakukan puasa sunnah di bulan sya’ban melebihi di bulan lain sebagai bentuk persiapan jasadiyah. Agar tubuh ada penyesuaian dengan pengosongan lambung namun tetap bugar dan sehat, sehingga tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. Usamah bin Zaid ra menceritakan: “aku bertanya kepada Rasulullah: Ya Rasulullah mengapa aku melihat Engkau banyak berpuasa di bulan Sya’ban, tidak seperti di bulan lain? Rasulullah bersabda: Dzalika syahru yaghlubu nnaasu anhu baina rajabin wa romadhona, wahuwa syahrun yurfa’u fiihi al a’mal ila robbil ‘alamiin.Fauhibbu an yurfa’a ‘amalii wa ana shooimun. Artinya:”Bulan sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan. Ia berada antara rajab dan Ramadhan. Dibulan itulah amal perbuatan diangkat ke sisi Robb pencipta ala.karena itu aku ingin saat amal perbuatanku diangkat, aku sedang berpuasa.” (H.R abu Daud dan nasa’i. Ibnu khuzaimah menshohihkan hadits ini)[3]-
Persiapan maliyah
-
Susun agenda